Skip to main content

CEWEK BUGIL

Haruskah Komunikasi Sepanjang Waktu dengan Pacar?


Tidak bisa dipungkiri bahwa komunikasi adalah salah satu aspek terpenting dalam sebuah hubungan. Melalui komunikasi, keterikatan emosional serta keintiman Anda dan pasangan akan selalu terjaga. Namun, seberapa sering Anda harus melakukan komunikasi dalam hubungan pacaran? Apakah komunikasi wajib dilakukan setiap hari?

Apakah komunikasi dalam hubungan pacaran harus dilakukan setiap hari?

Ketika baru saja memulai hubungan asmara, mungkin Anda atau pasangan selalu memiliki keinginan untuk berbicara, bahkan sekadar chatting setiap waktu.
Rasanya Anda dan pasangan tidak mau kehilangan momen berharga untuk membicarakan apapun, mulai dari menanyakan kegiatan sehari-hari, hingga topik-topik seru lainnya.
Tetapi, mungkin Anda pernah bertanya-tanya apakah komunikasi memang perlu dilakukan setiap hari dalam hubungan pacaran.
Anda mungkin khawatir apakah pasangan merasa bosan dan jenuh bila komunikasi dilakukan secara berlebihan. Di sisi lain, Anda juga takut hubungan ini akan terasa hambar jika intensitas komunikasi menurun seiring dengan berjalannya waktu.
Dilansir dari Elite Daily, sebenarnya tidak ada jawaban yang benar dan salah mengenai seberapa sering komunikasi dalam hubungan pacaran harus dilakukan.
Terdapat tiga hal penting yang harus diperhatikan, yaitu seberapa lama hubungan telah berjalan, seberapa nyaman Anda dan pasangan dalam hubungan tersebut, serta kegiatan atau kesibukan masing-masing.
Apabila hubungan pacaran masih tergolong baru, sangat wajar jika komunikasi berlangsung setiap hari, bahkan hampir setiap waktu. Anda dan pasangan masih dalam proses saling mengenal pribadi masing-masing, sehingga membicarakan apapun terasa menyenangkan.
Namun, bila hubungan pacaran sudah berjalan cukup lama dan kedua belah pihak telah saling mengenal satu sama lain dengan baik, kemungkinan intensitas komunikasi akan menurun.
Anda atau pasangan merasa tidak perlu lagi saling menanyakan kabar atau kegiatan di hari itu karena sudah hafal jadwal masing-masing. Belum lagi jika Anda atau pasangan sama-sama memiliki kesibukan yang cukup padat.
Tidak pernah ada aturan pakem mengenai komunikasi yang terlalu banyak atau terlalu sedikit. Semua kembali ke preferensi pribadi masing-masing.
Beberapa orang memang senang mengobrol dan berkomunikasi lebih sering, dan ada pula yang merasa cukup dengan berkabar sesekali, asalkan komunikasi tetap berjalan lancar.
Yang menjadi masalah adalah ketika komunikasi dalam hubungan pacaran mulai mengganggu kehidupan pribadi masing-masing. Misalnya, ketika salah satu pihak menuntut pasangannya untuk memberi kabar terlalu sering, atau marah saat pesan singkatnya tidak dibalas hanya dalam waktu beberapa menit.

Jadi, seperti apakah komunikasi dalam hubungan pacaran yang sehat?

Hal terpenting yang harus diingat agar komunikasi tetap berjalan dengan sehat dan lancar adalah rasa saling mengerti.
Apabila salah satu pasangan merasa bahwa intensitas komunikasi sudah berlebihan, ia harus jujur mengatakan masalah tersebut ke pasangannya dan mencari solusi terbaik agar tidak ada pihak yang diberatkan.
Hal ini juga berlaku pada kondisi sebaliknya, ketika salah satu pasangan merasa komunikasi sudah tidak terasa semenyenangkan dulu.
Jika Anda menghadapi masalah ini dengan pasangan, Anda dan pasangan harus membicarakan masalah ini baik-baik. Sesuaikan cara berkomunikasi Anda dan pasangan yang mungkin memang berbeda antara satu sama lain.
Komunikasi yang sehat dalam hubungan pacaran tidak bergantung pada seberapa seringnya, namun mengenai bagaimana masing-masing pihak merasa saling dimengerti dan diterima.

Comments

Popular posts from this blog

10 Tips Melakukan Seks Cepat Saat Tak Ada Waktu

Pernahkah Anda melakukan seks cepat? Hmm, bagaimana rasanya? Kita semua tahu bahwa seks yang memuaskan adalah yang melibatkan pemanasan, dapat berupa ciuman, pijatan, sentuhan-sentuhan memanjakan, atau permainan tertentu. Namun, saat waktu yang kita miliki terbatas, seks singkat pun menjadi pilihan yang menantang. Terkadang seks cepat juga dilakukan saat salah satu pasangan tidak sabar menunggu. Tapi apakah seks cepat tersebut dapat membuat Anda dan pasangan merasa terkoneksi? Lalu bagaimana cara melakukannya agar sama bermaknanya seperti bercinta biasa. Bagaimana melakukan seks cepat? Berdasarkan survei terapis seks yang berasal dari Kanada dan Amerika, yang dipublikasikan pada The Journal of Sexual Medicine, seks cepat atau quickie  tidak melibatkan pemanasan ( foreplay ), biasanya berlangsung sekitar 3 sampai 13 menit. Mungkin pada novel-novel romantis, adegan seks yang lama terasa sangat sensual, namun seringnya di kehidupan nyata, seks maraton yang berlangsun...

Berapa Kali Masturbasi yang Dianggap Masih Normal?

Alasan utama mengapa pria suka melakukan masturbasi adalah untuk mendapatkan kesenangan. Setelah melakukan masturbasi, pria akan merasa kepuasan seksualnya terpenuhi. Kenikmatan yang diperolehnya ini membuat pria ingin selalu melakukannya, bahkan mungkin bisa mengakibatkan kecanduan. Beberapa mungkin sampai mengganggu kehidupan sehari-harinya. Agar tidak mengembangkan hal-hal yang buruk, apakah ada batas maksimal berapa kali masturbasi yang masih dianggap wajar? Berapa kali masturbasi yang masih tergolong normal? Pertanyaan tersebut mungkin sering Anda pikirkan di otak Anda. Ya, melalui masturbasi seorang pria dapat terpuaskan akan kebutuhan seksualnya. Namun, jika hal ini dilakukan terus-menerus, tentu dapat mengganggu kehidupan dan hasrat seksual. Apalagi seringnya melakukan masturbasi setelah menikah juga terbukti membuat keintiman dengan pasangan menjadi berkurang. Masturbasi mungkin diperlukan, selain untuk kepuasan seksual, juga untuk mengeluarkan sperma...